Syntax Literate : Jurnal Ilmiah Indonesia p–ISSN: 2541-0849

       e-ISSN : 2548-1398

       Vol. 3, No.12 Desember 2018

 


SUPERVISI MULTI METODE UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU DI SALAH SATU SEKOLAH BINAAN DALAM MEMBUAT VIDEO PEMBELAJARAN

 

Ida Suciati Mandirisari

Pengawas SMA Kota Bandung, Cabang Dinas Wilayah VII, Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat

Email: idasucimandirisari@yahoo.co.id

           

Abstrak

Hasil belajar siswa dipengaruhi proses pembelajaran. Proses pembelajaran harus melibatkan komponen tujuan, media, bahan, dan metode pembelajaran, alat penilaian, serta kemampuan guru dalam memamfaatkan aplikasi teknologi (literasi teknologi) untuk memperkaya serta membuat pembelajaran menjadi lebih menarik minat belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam membuat media pembelajaran video pembelajaran menggunakan aplikasi inshot. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan sekolah, yaitu melaksanakan pembinaan bagi sekelompok guru di suatu sekolah, melalui beberapa siklus, mengunakan sistem spiral refleksi model Kemmis dan Mc Taggart yang dimodifikasi. Strategi/Metode/Teknik Pembinaan yang digunakan adalah supervisi multi metode. Pada siklus 1 menggunakan Observasi-Refleksi-Rekomendasi, dan Focused Group Discussion, sedangkan pada siklus 2 menggunakan IHT, Focused Group Discussion, serta Observasi-Refleksi-Rekomendasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah dilaksanakan supervisi multi metode, kemampuan guru dalam media pembelajaran video pembelajaran menggunakan aplikasi inshot, sudah menunjukkan adanya peningkatan, dari siklus I ke Siklus II. Siklus II mengakhiri pembinaan, dengan indikator skor guru minimal 80.00 sudah diatas 85%, yaitu sebesar 100%.

Kata kunci: Supervisi Multi Metode, Kemampuan Guru, Video Pembelajaran              

.

 

Pendahuluan

          Hasil belajar siswa akan meningkat jika kompetensi pedagogik dan profesional guru meningkat. Selain itu, proses pembelajaran harus melibatkan komponen: tujuan, media, bahan, dan metode pembelajaran, serta alat penilaian (Arikunto, 2003; Udin, 1992; dan Winkell, 1993). Jika salah satu komponen tidak ada maka proses pembelajaran kurang berhasil (Udin, 1992 dan Sudjana, 2001). Namun fakta dilapangan sebagian guru selalu menggunakan metode pembelajaran konvensional yang bersifat satu arah. Kondisi tersebut diperparah dengan adanya data, masih banyak guru yang belum memamfaatkan aplikasi teknologi untuk memperkaya serta membuat pembelajaran menjadi lebih menarik minat belajar siswa (Newman et all,  1998; Hobbs, 1998; dan Harris et all, 1995;

    Pada saat ini aplikasi teknologi berkembang sangat pesat. Aplikasi tersebut akan dengan mudahnya diperoleh dari media internet termasuk informasi media pembelajaran, materi, model, dan metode pembelajaran. Jadi bisa dibanyangkan jika guru tidak menguasai aplikasi teknologi maka guru tersebut, akan mengalami kesulitan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran (Barbara et all, 2008; Elain, 2000; Marfuah, 2011; & Retno, 2003). Untuk mencapai proses pembelajaran yang berkualitas, maka guru harus bertanggung jawab dan berinitiatif untuk mengenali kebutuhan belajar siswa, menemukan sumber-sumber informasi untuk dapat menjawab kebutuhannya, membangun serta mempresentasikan pengetahuannya berdasarkan kebutuhan serta sumber-sumber yang ditemukannya. Dengan anggapan bahwa tiap peserta didik adalah individu yang unik, proses, materi dan metode belajar disesuaikan secara fleksibel dengan minat, bakat, kecepatan, gaya serta strategi belajar dari tiap peserta didik. Tersedianya pilihan-pilihan bebas ini bertujuan untuk menggali motivasi intrinsik dari dalam dirinya sendiri untuk belajar sesuai dengan kebutuhannya secara individu, bukan kebutuhan yang diseragamkan (Barbara, et al, 2008; Marfuah; 1989 & Retno, 2003).

          Pelaksaan pembinaan tersebut akan optimal jika guru telah menguasai terlebih dahulu aplikasi teknologi dengan menggunakan internet. Kajian penggunaan aplikasi teknologi dalam pembelajaran terbukti meningkatkan hasil pembelajaran. Beberapa penelitian yang menunjukkan hal tersebut diantaranya: (1) Hernani & Ahmad (2010) menyimpulkan bahwa keterampilan proses siswa SMP kelas VII meningkat setelah menggunakan pembelajaran berbasis literasi teknologi; (2)  Bella ( (2018) menyimpulkan bahwa penerapan literasi digital dan teknologi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan pembelajaran siswa SMP Negeri 6 Banda Aceh, dan (3) Husain (2004) menyimpulkan bahwa penggunaan teknologi informasi dan teknologi sebagai media pembelajaran meningkatkan motivasi belajar siswa SMA, dan (4) Djuniar dkk (2015) menyimpulkan terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang belajar menggunakan pembelajaran berbasis literasi dibanding dan yang belajar menggunakan pembelajaran konvensional.

            Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran yang dilakukan guru, diantaranya dengan meningkatkan kemampuan guru tersebut dalam membuat media pembelajaran berbasis aplikasi teknologi, khususnya aplikasi inshot. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu adanya pembinaan yang dilakukan oleh pengawas sekolah dengan menerapkan metode atau model supervisi yang bermutu (Dirjen PMPTK, 2008 dan Sujana dkk, 2011). Hal inilah yang mendorong peneliti telah melaksanakan penelitian tindakan sekolah dengan menerapkan supervisi multi metode untuk meningkatkan kemampuan guru di salah satu sekolah binaan dalam membuat media pembelajaran video pembelajaran melalui aplikasi inshot.

 

Metode Penelitian

            Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Sekolah yaitu melaksanakan pembinaan bagi sekelompok guru di suatu sekolah, melalui beberapa siklus, mengunakan sistem spiral refleksi model Kemmis dan Mc Taggart yang dimodifikasi (Sukidin dkk, 2002; Sumarno, 2005; & Wiriaatmadja, 1999), dengan tahapan mulai dari merencanakan pembinaan setiap siklus, pelaksanan pembinaan setiap siklus, observasi pelaksanaan dan refleksi pembinaan setiap siklus, yang dilakukan dari siklus I sampai siklus II dan seterusnya sampai diperoleh rekomendasi kemampuan guru pada siklus terakhir tuntas. Indikator  ketuntasan apabila telah mencapai 85 % subjek daya serapnya  ≥ 70 % (Depdikbud RI, 1994, dalam Sudjana, 2001 dan              Arikunto, 2003).

1.    Strategi/Metode Kerja/Teknik Pembinaan

Strategi/Metode/Teknik Pembinaan yang digunakan pada siklus 1 adalah Observasi-Refleksi-Rekomendasi, Focused Group Discussion, sedangkan pada siklus 2 adalah IHT, Focused Group Discussion, Observasi-Refleksi-Rekomendasi

2.     Setting/Lokasi/Subyek Penelitian

      Setting Penelitian

Secara garus besar, prosedur siklus dilakukan melalui kegiatan perencanaan (plan), siklus (act), observasi (observe) dan refleksi (reflect).  Adapun prosedur pengembangan model siklus yang dilaksanakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Bagan 1 di bawah ini :

 

 

 

 

 


     

 

 

 

      Bagan 1. Prosedur Pengembangan Model Siklus (Kemmis dalam Hopkin, 1993, dikutip Sukidin, 2002).

      Prosedur penelitian tersebut dilaksanakan dalam lima tahapan yaitu :

1)      Rencana tindakan pembinaan, yaitu merumuskan rencana pembinaan setiap kali akan  melaksanakan pembinaan  serta fokus yang akan diamati selama pelaksanaan pembinaan

2)      Penilaian terhadap keterampilan guru dalam membuat materi pelajaran dalam bentuk power point

3)      Observasi pembinaan guru, adalah proses mendokumentasikan pengaruh, kendala, tindakan pembinaan, serta persoalan yang mungkin ada, pada saat pembinaan berlangsung. Observasi dibantu oleh observer (rekan kepala sekolah) sehingga observasi akan menjadi efektif dan efisien, observer mengobservasi peneliti dan guru selama pelaksanaan pembinaan, penelitipun mengamati proses serta kegiatan yang dilaksanakan oleh guru, serta mencatat kendala-kendala yang dihadapi guru. Hasil observasi itu mendasari refleksi untuk siklus yang telah dilakukan dan dijadikan pertimbangan untuk menyusun rencana siklus selajutnya

4)      Refleksi, yaitu menjelaskan setiap efek-efeknya dan kegagalan pelaksanaan. Rekomendasi ini hasil kolaborasi antara  guru, peneliti dan observer serta dengan kepala sekolah, untuk mendiskusikan kelebihan dan kekurangan serta pengaruhnya dalam kegiatan pembinaan pada setiap siklus selama penelitian dilaksanakan Diskusi balikan, dilakukan antara  guru, peneliti,  observer serta dengan kepala sekolah, terhadap hasil observasi. Hasil diskusi balikan merupakan refleksi dari hasil observasi yang kemudian di interpretasi dan dijadikan rencana untuk memperbaiki  kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus yang telah dilaksanakan, untuk diterapkan pada siklus selanjutnya.

3.    Subyek dan Waktu Penelitian

Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah guru di salah satu sekolah binaan. Penelitian telah dilaksanakan pada tanggal 2 Juli 6 Agustus 2018       

4.    Instrumen Penelitia  

Untuk memperoleh data yang diharapkan, maka dalam penelitian ini digunakan instrumen sebagai berikut: (1) rencana pelaksanaan pembinaan; (2) pedoman observasi aktivitas guru; (3) daftar chek aktivitas guru; (4) Instrumen evaluasi guru dalam membuat media pembelajaran video pembelajaran; (5) format observasi pembinaan; (6) format diskusi balikan; dan (7) Daftar hadir guru.

5.    Prosedur Pengolahan dan Analisis Data

Data yang telah diperoleh pada setiap tahapan siklus diolah dan dinalisis melalui tahap-tahap sebagai berikut:

a)       Kategori Data

            Kategori Data dalam penelitian ini adalah : tingkat penguasaan dan keterampilan guru dalam menggunakan informasi dan tekonologi (internet) dalam melaksanakan pembelajaran.

b)      Interpretasi Data

Indikator  keberhasilan penelitian siklus ini adalah ketuntasan pembinaan dan daya serap guru. Pembinaan telah tuntas bila telah tercapai 85 % guru mencapai daya serap ≥ 70 % (Depdikbud RI, 1994 dalam Sudjana, 2001). Untuk menghitung persentase diatas dapat menggunakan rumus sebagai berikut :

        DSK = (∑guru yang memperoleh tingkat penguasaan ≥ 70%) X 100 %

                                                     Jumlah guru                          

3)   Validitas data

Agar data yang diperoleh sahih dan andal, maka dilakukan teknik triangulasi, yaitu dengan melakukan beberapa siklus antara lain:

·         Melakukan pengecekan ulang dari data yang telah terkumpul untuk kelengkapannya.

·         Melakukan pengolahan dan analisis ulang dari data yang terkumpul.

·         Membuat perangkat test

·         Pembuatan lembar observasi untuk guru dan instrumen lainnya.

4)   Pelaksanaan Siklus

·         Menerapkan pembinaan

·         Mengobservasi aktifitas guru dan peneliti selama pembinaan belangsung

·         Melaksanakan refleksi terhadap guru dan peneliti selama pembinaan

·         Bersama observer (rekan kepala sekolah) memberikan rekomendasi dari hasil pembinaan setiap siklus

5)   Evaluasi

·         Observasi keaktifan guru dan peneliti selama pembinaan

·         Observasi pelaksanaan pembinaan

·         Diskusi balikan antara guru dengan peneliti, observer dan kepala sekolah setiap menyelesaikan proses pembinaan

6)   Analisis dan Refleksi

   Langkah-langkah dalam refleksi siklus terdiri atas :

·         Mengidentifikasi permasalahan-permasalahan yang sudah dan belum terpecahkan serta yang muncul selama siklus berlangsung.

·         Menganalisis dan merinci pembinaan  yang telah dilakukan dan efektifitas pembinaan berdasarkan kendala-kendala yang dihadapi peneliti dan guru.

·         Menentukan siklus selanjutnya berdarkan hasil analisis refleksi yang dilakukan secara kolaborasi atara guru, peneliti, observer serta kepala sekolah

 

Hasil dan Pembahasan 

A.  Perubahan Aktivitas Guru dari Siklus 1 – Siklus II

Sebelum melaksanakan penelitian siklus I peneliti selalu merencanakan dan mengecek semua aspek meliputi: (1) rencana pelaksanaan pembinaan; (2) pedoman observasi aktivitas guru; (3) daftar chek aktivitas guru; (4) instrumen evaluasi guru dalam membuat media pembelajaran video pembelajaran; (5) format observasi pembinaan; (6) format diskusi balikan; dan (7) daftar hadir guru Setiap pelaksanaan penelitian, peneliti selalu melakukan diskusi balikan untuk mendapatkan informasi kekurangan-kekurangan yang ada sehingga disempurnakan pada siklus selanjutnya. Catatan lapangan (lembar observasi) dan lembar diskusi balikan telah mencatat perubahan yang terjadi. Perubahan yang terjadi tidak hanya dari cara hasil pembinaan, tetapi dilihat juga dilihat dari proses pembinaannya, yaitu aktivitas guru. Aktivitas guru dan perolehan skor guru, selama pembinaan dari siklus I sampai siklus II telah mengalami perbaikan dan peningkatan

1.        Perubahan Aktivitas Guru dari Siklus 1 – Siklus II                                        

 Proses pembinaan pada siklus II telah memperlihatkan adanya peningkatan aktivitas guru dibanding pada siklus I, mulai dari menginstal inshot, masuk ke dalam aplikasi inshot, masuk ke aplikasi video, membuat video pembelajaran dan mengedit video pembelajaran. Aktifitas guru selama pembinaan pada siklus II dapat dilihat dari Tabel 1 dibawah ini. Berdasarkan hasil observasi aktivitas guru selama penelitian dari siklus I sampai siklus II, dapat dilihat pada Tabel  1 dibawah ini.

Tabel 1.  Aktivitas Guru Selama Pembinaan dari Siklus I – siklus II

 

 


           

 

 

 

 

Data pada Tabel 1 menunjukkan bahwa kemampuan guru dalam menginstal inshot dengan terampil dari siklus I sampai siklus II mengalami peningkatan. Pada   siklus I guru yang  benar-benar terampil berjumlah 14 orang (66.67%), dan pada siklus II berjumlah 19 orang (90.48%).  

Kemampuan guru dalam  masuk ke dalam aplikasi inshot dengan terampil dari siklus I sampai siklus II mengalami peningkatan. Pada   siklus I guru yang benar-benar terampil berjumlah 13 orang (61.90%), dan pada siklus II berjumlah 17 orang (80.95%).  

Berdasarkan data pada Tabel 1 kemampuan guru dalam melakukan                        add  folder pada library dengan terampil dari siklus I sampai siklus II mengalami peningkatan. Pada   siklus I guru yang  benar-benar terampil berjumlah 12 orang (57.14%), dan pada siklus II berjumlah 16 orang (76.19%).

Kemampuan guru dalam membuat video pembelajaran dengan terampil dari siklus I sampai siklus II mengalami peningkatan. Pada   siklus I guru yang  benar-benar terampil berjumlah 13 orang (61.90%), dan pada siklus II berjumlah 17 orang (80.95%).

Berdasarkan data pada Tabel 1 kemampuan guru dalam membuat fitur-fitur pembelajaran yang akan digunakan dengan terampil dari siklus I sampai siklus II mengalami peningkatan. Pada   siklus I guru yang benar-benar terampil berjumlah 14 orang (66.67%), dan pada siklus II berjumlah 18 orang (85.71%).

2.    Skor  Guru dari Siklus I – II

Berdasarkan hasil skor guru dalam membuat media pembelajaran video pembelajaran selama pembinaan, menunjukkan adanya peningkatan skor guru pada siklus II dibanding siklus I. Peningkatan skor guru dapat dilihat pada Tabel 2 berikut :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 2  Skor Guru dari Siklus I – II

 

 

 

 

 

 

    

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan data pada Tabel 2, dapat dijelaskan:

1)      Pada Siklus I, skor tertinggi adalah 80.00, terendah 50.00 dan  rata-ratanya adalah 68.10 serta jumlah guru yang mengalami ketuntasan belajarnya sebanyak 12 orang (57.14%).

2)   Pada Siklus II, nilai rata-rata harian tertinggi adalah 90.00, terendah 60.00 dan rata-ratanya adalah 77.14 serta jumlah guru yang mengalami ketuntasan belajarnya sebanyak 18 orang (85.71%).      

B. Analisis Hasil Penelitian.

1. Pengaruh Pembinaan Terhadap Peningkatan Aktivitas Guru dari Siklus I – Siklus II

              Hasil observasi proses pembinaan dari siklus I sampai Siklus II, menggambarkan bahwa aktivitas guru menunjukan pola yang aktif, serta antusias mengikuti setiap sesi pembinaan.   Hampir semua guru berperan aktif membuat media pembelajaran video pembelajaran, mulai dari menginstal inshot, masuk ke dalam aplikasi inshot, masuk ke aplikasi video, membuat video pembelajaran dan mengedit video pembelajaran. Walaupun pada awalnya banyak yang belum terampil tetapi pada siklus II sudah menunjukkan kemajuan yang sangat pesat

2. Pengaruh Pembinaan Terhadap Kemampuan dan Keterampilan Guru Dalam Membuat Media Pembelajaran Video Pembelajaran.

Hasil observasi proses pembinaan dari siklus I sampai siklus II, menggambarkan bahwa skor guru menunjukan adanya peningkatan. Peningkatan itu menunjukkan bahwa setiap guru telah melaksanakan dan mengikuti tahap-tahap jalannya kegiatan pembinaan, serta menunjukan bahwa hampir semua guru berperan aktif mengikuti setiap sesi pembinaan yang dilakukan oleh peneliti. Sehingga pada saat dilaksanakan pengukuran kemampuan dan  keterampilan guru dalam membuat media pembelajaran video pembelajaran, pada siklus II, sudah 85.71% guru memperoleh skor 70.00 ke atas.  Selain itu proses bimbingan dan arahan selama proses pembinaan yang dilakukan sudah diupayakan intensif. Sehingga guru tidak mengalami kesulitan dalam melaksanakan proses pembinaan dalam membuat media pembelajaran video pembelajaran

 

Kesimpulan

1)   Hasil proses pembinaan pada siklus I, menunjukkan bahwa aktivitas guru dalam menginstal inshot, masuk ke dalam aplikasi inshot, masuk ke aplikasi video, membuat video pembelajaran dan mengedit video pembelajaran masih perlu ditingkatkan, kemudian skor rata-rata hasil pembinaan guru, belum memuaskan yaitu 68.10. Aktivitas guru dalam siklus I, perlu ditingkatkan dan harus diperbaiki pada siklus II.

2)   Hasil proses pembinaan pada siklus II, menunjukkan bahwa aktivitas pembinaan guru dalam menginstal inshot, masuk ke dalam aplikasi inshot, masuk ke aplikasi video, membuat video pembelajaran dan mengedit video pembelajaran sudah menunjukkan adanya peningkatan. Skor  rata-rata hasil pembinaan guru sudah meningkat menjadi 77.14, siklus II mengakhiri pembinaan, dengan indikator keaktifan guru telah diatas 70.00% dan Skor  guru minimal 70.00 sudah diatas 85%, yaitu sebesar 85.71%

3)   Selama proses pembinaan mulai siklus I sampai siklus II, peneliti berusaha memotivasi setiap guru dan melaksanakan bimbingan serta arahan secara intensif dan adil, supaya setiap guru berpartisifasi dalam mengikuti setiap sesi pembinaan, mulai dari menginstal inshot, masuk ke dalam aplikasi inshot, masuk ke aplikasi video, membuat video pembelajaran dan mengedit video pembelajaran

Rekomendasi

1)      Model pembinaan ini, tidak hanya diterapkan di di salah satu sekolah binaan, tetapi bisa diterapkan pada SMA lainnya baik negeri maupun swasta. Sehingga peningkatan pembinaan dapat terjadi secara menyeluruh 

2)     Bagi pengawas lainnya model pembinaan ini bisa dijadikan salah satu model pembinaan yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan guru dalam membuat media pembelajaran video pembelajaran dalam pembelajaran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BIBLIOGRAFI

 

Arikunto, S. 2003. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

 

Barbara, S., et all. 2008. Vienna E-Lecturing (VEL): learning how to learn selft-regulated in an internet-based blanded learning setting.  International journal on e-learning. (Online) Tersedia:

            http://proquest.umi.com/pqdweb?index=9&did=2180113171&SrchMode= 1&sid=1&Fmt=6&VInst=PROD&VType=PQD&RQT=309&VName=PQ D&TS=1228466890&clientId=68516 (8 November 2008)

 

Bella, E. 2018. Pengaruh Penerapan Literasi Digital & Teknologi terhadap Peningkatan Pembelajaran Siswa di SMP Negeri 6 Banda Aceh. Skripsi. UIN Ar-Rantry Darussalam – Banda Aceh.

 

Dirjen PMPTK. 2008. Metode dan Teknik Supervisi, Jakarta.

 

Djuniar R.H., Eny, E., dan Ira, L. (2015). Pembelajaran berbasis literasi pada materi Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit di SMA Negeri 1 Pontianak. Tesis. Program Pascasarjana. Untan

 

Elain, C. 2000. New Approaches to Literacy Learning. UNESCO  Consultant

 

Harris, Theodore L., Hoghes, Richard E. 1995. The Literacy Dictionary. Newark, Delaware: International Reading Assosia Delaware

 

Hernani & Ahmad, M. 2010. Pengaruh Pembelajaran Berbasis Literasi Sains dan Teknologi terhadap Keterampilan Proses SAINS siswa SMP. Jurnal Pendidikan Matematika dan Sains Edisi I Tahun XV 2010

 

Hobbs, R. 1998. Instructional Practices in Media Literacy and Their Impact on

 

Husain, C. 2014. Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pembelajaran di SMA Muhammadiyah Tarakan. Jurnal Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan Volume 2, Nomor 2, Juli 2014; 184-192

 

Marfuah. M.T. 2011. Edmodo: Social Network Berbasis Sekolah. Available: http://p4tkmatematika.org/2011/12/edmodo-social-network-berbasis-sekolah

Newman, Susan B., Roskes, Kathleen A. (1998). Children Achieving: Best Practices in Literacy. Newark, Delaware: International Reading Assosiation.

 

Retno. 2003. Media Pendidikan, Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Rajawali. Jakarta. Students Learning. Tersedia dalam <www.interact.uoregon.edu/MediaLit/readingarticles/hobbs/inspractice.html,>diakses 20 Agustus 2011.

 

Sudjana, 2001. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Jakarta.: Sinar Baru.

Sujana, dkk. 2011. Buku Kerja Pengawas. Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan, Badan PSDM dan PMP. Jakarta: Kementrian Pendidikan Nasional.

 

Sukidin. 2002. Manajemen Penelitian. Jakarta: Insan Cendikia.

 

Sumarno, U. 2005. Penelitian Siklus. Makalah. UPI. Tidak diterbitkan

 

Udin S.W. 1992. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Depdikbud

 

Winkell, W.S. 1993. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia.

Wiriaatmadja. 1999. Penelitian Tindakan dalam Bentuk Siklus Sebagai Upaya Meningkatkan Kemahiran Profesional Dosen di Perguruan Tinggi. Jurnal Mimbar Penelitian. No 30/Juli. UPI