Syntax Literate : Jurnal
Ilmiah Indonesia p–ISSN: 2541-0849
e-ISSN : 2548-1398
Vol. 4, No. 2 Februari 2019
PENENTUAN KADAR TEMBAGA (II) PADA SAMPEL MENGGUNAKAN SPEKTROSKOPI SERAPAN ATOM (SSA) PERKIN ERLMER
ANALYST 100 METODE KURVA KALIBRASI
Dian Farkhatus Solikha
Akademi Minyak dan Gas (AKAMIGAS) Balongan
Email : farkatussolikhadian@gmail.com
Abstrak
Pengujian kadar Cu (II) dapat dilakukan dengan menggunakan alat uji
Spektroskopi Serapan Atom (SSA) metode kurva kalibrasi, pada penelitian kali
ini digunakan Spektroskopi Serapan Atom (SSA) Perkin Erlmer Analyst 100. Sampel
yang digunakan terdiri atas dua sampel yaitu sampel 1 dan sampel 2, analisis
dilakukan duplo. Sedangkan Larutan deret standar yang digunakan terdiri atas
enam konsentrasi dimana masing-masing konsentrasinya adalah 5 ppm, 10 ppm, 15
ppm, 20 ppm, dan 25 ppm. Berdasarkan pengujian SSA didapatkan absorbansi pada 5
ppm sebesar 0,160 ; 10 ppm sebesar 0,334 ; 15 ppm sebesar 0,532 ; 20 ppm
sebesar 0,589 ; 25 ppm sebesar 0,712 ; sampel 1 sebesar 0,543 dan sampel 2
sebesar 0,549. Terdapat penyimpangan pada larutan standar 15 ppm dikarenakan
penyimpangan dalam hal syarat konsentrasi dan penyimpangan dalam hal syarat
kimia. Kadar Cu (II) dalam sampel diperoleh sebesar 18,3 ppm pada sampel 1dan pada sampel 2 sebesar 18,1 ppm, diperoleh menggunakan
metode kurva kalibrasi.
Kata kunci: Tembaga
(II), SSA, Kurva Kalibrasi, Larutan Standar, Sampel 1, Sampel 2
Pendahuluan
. Peristiwa
serapan atom pertama kali diamati oleh Fraunhofer, ketika menelaah garis-garis
hitam pada spektrum matahari. Pentingnya garis-garis ini baru dipahami pada
tahun 1859, ketika kirchhof menerangkan asal-usulnya setelah mengamati gejala
yang serupa di laboratorium. Sedangkan yang memanfaatkan prinsip serapan atom
pada bidang analisis adalah seorang Australia bernama Alan Walsh pada tahun
1955. Sebelumnya ahli kimia banyak tergantung pada cara-cara spektrofotometrik
atau analisis spektrografik. Beberapa cara ini sulit dan memakan waktu,
kemudian digantikan dengan spektroskopi serapan atom. Metode ini sangat tepat
untuk analisis zat pada konsentrasi rendah.
Spektroskopi Serapan Atom (SSA) adalah suatu teknik analisis yang
digunakan untuk menentukan kadar suatu logam dalam suatu senyawa dengan
mengatomisasinya terlebih dahulu. Atomisasi dapat dilakukan dengan nyala.
Metode SSA berprinsip pada absorpsi cahaya oleh atom, yang
berakibat suatu atom pada keadaan dasarnya, dinaikkan ke tingkat energi
eksitasi.
![]()
Gambar
1.1 Proses absorpsi cahaya oleh atom
Penjelasannya adalah sebagai berikut atom-atom menyerap cahaya pada
panjang gelombang tertentu, tergantung pada sifat unsurnya, dengan absorpsi
energi maka akan diperoleh lebih banyak energi, kemudian suatu atom pada
keadaan dasar dinaikan tingkat energinya ketingkat eksitasi. Logam akan mengabsorbsi energi cahaya, cahaya yang diabsorpsi
spesifik sekali untuk tiap unsur, yaitu sesuai dengan energi emisi dari unsur
tersebut.
Setiap alat SSA terdiri atas komponen-komponen berikut :
1.
Sumber radiasi
Fungsi dari
sumber sinar adalah memberikan radiasi sinar pada atom-atom netral hingga
terjadi absorpsi, yang diikuti peristiwa eksitasi atom. Sumber sinar biasanya
diperoleh dari lampu katoda berongga (Hollow Cathode Lamp_HCl) yang
memberikan energi sinar yang khas untuk setiap atom. HCL dapat berupa unsur
tunggal atau kombinasi beberapa unsur (Ca, Mg, Al, Fe, Mn, Cu, Zn, Pb, dan Sn).
1-11%20OK_files/image005.jpg)
Gambar
1.2 Hollow Cathode Lamp_HCl
2.
Unit atomisasi (Atomiser nyala)
Tujuan Atomisasi : untuk mendapatkan atom-atom netral Atomisasi
dapat dilakukan dengan nyala api (paling banyak digunakan) atau tanpa nyala
api. Tahap pembentukan atom dari larutan zat dapat dilakukan dengan 3
cara sebagai berikut :
a.
Memakai
nyala (pembakar)
Prosesnya
adalah larutan dikabutkan terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke pembakar atau burner. Kemudian
udara bertekanan (kompresor) sebagai oksidan ditiupkan ke dalam ruang pengkabut
(nebulizer) sehingga akan mengisap larutan sampel dan membentuk aerosol. Kabut
halus dari aerosol kemudian dicampur dengan bahan bakar diteruskan ke pembakar,
sedangkan butir-butir yang besar akan mengalir ke luar melalui pembuangan
(waste).
Pemakaian nyala
(pembakar) mempunyai keuntungan dan kekurangan sebagai berikut :
· Keunggulan
- memberikan hasil-hasil yang bagus
- mudah cara kerjanya
· Kekurangan
- efisiensi
pengatoman di dalam nyala rendah,
sehingga membatasi tingkat
kepekaan analisis yang dapat dicapai
- penggunaan gas yang banyak, bahaya ledakan
- jumlah sampel yang
diperlukan relatif banyak
b.
Tanpa
nyala (memakai tungku grafit)
Prosesnya
dimulai dengan memanaskan tungku grafit dengan listrik (electrical
thermal). Suhu dari tungku dapat diprogram sehingga pemanasan larutan
dilakukan secara bertahap:
* tahap pengeringan
(desolvasi)
* tahap pengabuan
(volatilisasi, dissosiasi)
* tahap pendinginan
* tahap atomisasi
Pemakaian
tungku grafit mempunyai keuntungan dan kekurangan sebagai berikut :
·
Keunggulan
-
sensitivitas
lebih baik. Limit deteksi dapat mencapai
100-1000 kali lebih kecil dari sistem nyala api.
-
sering
dapat digunakan untuk analisa renik dengan kadar kurang dari 10 µg/L
-
suhu
dapat diatur, sehingga sampel yang dijadikan atom lebih banyak
-
jumlah
sampelnya sedikit (5µL)
-
cara
penyiapan sampel sederhana. Sampel yang mengandung asam-asam pekat, larutan
kental, larutan organik serta cairan dengan kandungan zat padat cukup tinggi
dapat langsung dianalisis
-
kepekaan
lebih baik dari cara nyala
·
Kekurangan
-
perlu
keterampilan khusus untuk pengoperasiannya
-
kemungkinan
terbentuk senyawa karbida yang sulit diuraikan. Hal ini sudah mulai dikurangi
dengan cara melapisi dengan grafit pirolisis
c.
Tanpa
panas (dengan penguapan)
Metode ini digunakan untuk menetapkan raksa (Hg), karena raksa pada
suhu biasa mudah menguap dan berada dalam keadaan atom bebas.
3.
Sistem Optik
Fungsi sistem optik adalah memfokuskan sinar dari sumber sinar,
mengarahkannya kepada sampel dan kemudian meneruskannya ke monokromator sampai
ke detekor.
4.
Monokromator
Fungsi dari monokromator adalah mengisolasi sinar yang diperlukan
(salah satu atau lebih garis-garis resonansi dengan λ
tertentu) dari sinar (spektrum) yang dihasilkan oleh lampu katoda berongga, dan
meniadakan λ yang lain
Peralatan yang digunakannya adalah cermin, lensa, filter, prisma atau kisi
difraksi Monokromator yang digunakan harus mampu memberikan resolusi yang
terbaik, umumnya mempunyai resolusi 0,2 nm.
5.
Detektor
Fungsi dari detektor adalah menentukan intensitas radiasi foton
dari garis resonansi yang keluar dari monokromator dan mengubahnya menjadi arus
listrik. Biasanya menggunakan tabung pengganda foton (photo multiplier tube).
Syarat dari detektor adalah harus peka terhadap cahaya.
Tenaga listrik yang dihasilkan dari detektor diteruskan ke
amplifier, kemudian ke sistem pembacaan, dimana skala yang dibaca dapat dalam
satuan % T atau absorbansi
6.
Amplifier
Berfungsi
sebagai penguat sinyal listrik yang dihasilkan oleh detektor.(Underwood, 2002) Proses
pengerjaan menggunakan Spektroskopi Serapan Atom (SSA) dapat dijelaskan sebagai
berikut :
1-11%20OK_files/image007.png)
Gambar 1.3 Alat
spektrofotometri serapan atom (SSA)
Metode Penelitian
Metode
yang digunakan pada penelitian ini adalah metode pengujian sample menggunakan
alat Alat spektrofotometri serapan atom (SSA) dengan metode analisis kurva
kalibrasi untuk mengetahui kandungan tembaga (II). Berikut ini adalah
penjelasan dari pengujian yang dilakukan :
1.
Alat dan bahan
a.
Alat
·
Gelas
Kimia 100 mL
·
Batang
Pengaduk
·
Labu
Takar 100 mL
·
Labu
Takar 50 mL
·
Labu
Takar 25 mL
·
Pipet
Ukur
·
Corong
·
Statif
Corong
·
Pipet
Tetes
·
Alat
SSA Perkin Erlmer Analyst 10
b.
Bahan
·
Larutan
HNO3 1 M
·
Aquades
·
H2O2
30 %
·
Larutan
Stock
·
Larutan
Uji
2.
Prosedur
Kerja
Berikut ini adalah prosedur pengujian yang dilakukan :
a.
Pembuatan
Larutan Blanko
Diambil 0,3125 ml HNO3
dengan konsentrasi 16 M ke dalam
labu takar 10 ml lalu ditambahkan aquades sampai tanda batas dan dihomogenkan.
b.
Pembuatan
Larutan Kerja Tembaga (II)
Larutan
kerja tembaga (II) dibuat dalam konsentrasi 5 ppm, 10 ppm, 15 ppm, 20 ppm, dan
25 ppm (untuk jumlah volum dapat dilihat di tabel D.1) dan diambil dari larutan
stock. Larutan kerja tembaga (II) dalam masing-masing konsentrasi (kecuali
untuk konsentrasi 5 ppm dimasukan ke dalam labu takar 50 ml ) dimasukan ke
dalam labu takar 25 ml lalu ditandabataskan menggunakan larutan blanko.
Tabel 2.1
Konsentrasi dan Volume Larutan Kerja Tembaga (II)
|
Volume (mL) |
|
|
5 |
0,25 |
|
10 |
0,25 |
|
15 |
0,375 |
|
20 |
0,5 |
|
25 |
0,625 |
3.
Preparasi
Sampel
25 ml contoh uji diambil secara duplo dan dimasukan ke dalam labu
takar 50 ml. kemudian ditepatkan pH contoh uji sampai 2 dengan cara menambahkan
larutan HNO3 1M kemudian
tepatkan volume sampai dengan 50 ml dengan cara menambahkan aquades. Jika masih
ada yang tidak larut maka disaring menggunakan kertas saring whatmann.
Hasil dan Pembahasan
Pada penelitian
yang dilakukan penentuan konsentrasi Cu
(II) dalam suatu sampel menggunakan instrumen spektroskopi serapan atom dengan
metode analisis kurva kalibrasi. Metode kurva kalibrasi digunakan karena dianggap tidak ada gangguan.
Larutan deret
standar yang digunakan terdiri atas enam konsentrasi dimana masing-masing
konsentrasinya adalah 5 ppm, 10 ppm, 15 ppm, 20 ppm, dan 25 ppm. Spada
pembuatan larutan sampel dilakukan penambahan asam nitrat (HNO3) sehingga kondisi
pH=2 yang bertujuan agar tidak terjadi hidrolisis dan logamnya larut (tidak
mengendap), viskositas yang tinggi, tegangan permukaan, dan tekanan uap pelarut
meninggi sehingga proses analisis akan efisien.
Seiring dengan
pemberian tegangan pada arus tertentu (22 mA) maka logam pun mulai memijar dan
atom-atom logam katodanya akan teruapkan (proses atomisasi). Proses atomisasi
sendiri bertujuan untuk mendapatkan atom-atom netral. Proses pembentukan atom
Cu dari Cu(NO3)2 adalah sebagai berikut:
Cu(NO3)2.H2O
(aq) Cu(NO3)2 (l) + H2O (l)
Cu(NO3)2 (l) CuO + 2NO
CuO Cu + O (atom-atom
netral)
Kemudian setelah
terjadi proses atomisasi maka atom yang tereksitasi akan mengemisikan radiasi
pada panjang gelombang tertentu (324,8 nm). Berikut akan dipaparkan pengaturan
alat yang dilakukan :
Panjang gelombang : 324,8 nm
Kuat arus : 22 Ma
Lebar Split : 0,7 nm
Fuel : Oksidan : 2 : 4
Lama Pembacaan : 0,7 detik
Pengulangan Pembacaan : 3 kali
Larutan standar
dan sampel yang diaspirasikan kedalam nyala api akan mengalami reaksi yang
urutannya sebagai berikut : desolvasi, volatilisasi, dan disosiasi.
larutan garam
padatan bermuatan
gas bermuatan
gas tidak bermuatan (atom-atom netral) Atau
M+X‑
(aq)
M+X‑ (s)
M+X‑ (g)
Mo(g) + Xo(g)
Bahan bakar yang
digunakan pada instrumen spektroskopi serapan atom ini adalah asetilen dan
udara yang menghasilkan suhu 23000C, pemilihan bahan bakar ini
disesuaikan dengan logam yang akan dianalisis. Katoda lamp (hollow katode) yang
digunakan adalah Cu, karena logam yang akan dideteksi adalah logam Cu. Katoda lamp
ini merupakan sumber energi yang menghasilkan cahaya emisi. Cahaya emisi ini
terjadi karena adanya perpindahan elektron ketika arus listrik dialirkan.
Setelah proses
penganalisaan menggunakan instrumen spektroskopi serapan atom maka didapatkan
data absorbansi dari larutan deret standar dan sampel duplo. Data percobaan
tersebut seperti yang tertulis pada tabel di bawah ini :
Tabel 3.1 Data percobaan
|
Konsentrasi
(ppm) |
Absorbansi |
|
0 |
0,001 |
|
5 |
0,160 |
|
10 |
0,334 |
|
15 |
0,532 |
|
20 |
0,589 |
|
25 |
0,712 |
|
Sampel 1 |
0,543 |
|
Sampel 2 |
0,549 |
Bedasarkan
data di atas dapat ditentukan konsentrasi dari tembaga (II) dengan cara
memplotkan data absorbansi dan terhadap konsentrasi
sebagai berikut :
\
Maka
konsentrasi dari tembaga (III) dalam
larutan contoh uji
Sampel
1 : y = 0,030 x
0,549
= 0,030 x
x = 18,3 ppm
sampel
2 : y = 0,030 x
0,543
= 0,030 x
x = 18,1 ppm
Secara teoritik
untuk mendapatkan kurva kalibrasi yang lurus perlu diperhatikan absorbansi pada panjang gelombang tersebut harus
memenuhi rentang 0,2-0,8 agar memenuhi hukum lambert-beer. Jika ditinjau dari
ketercapaian rentang tersebut maka pada percobaan yang dilakukan secara
keseluruhan data yang didapat memenuhi rentang tersebut namun secara fakta
terdapat penyimpangan yang ditunjukan pada grafik diatas (yang ditunjukan oleh
tanda panah merah). Hipotesis yang kami ajukan mengenai penyimpangan tersebut
adalah dikarenakan adanya penyimpangan hukum lambert-beer yang terjadi akibat
faktor selain pemenuhan rentang 0,2-0,8 tersebut, yaitu:
1.
Penyimpangan dalam hal
syarat konsentrasi
Hukum
lambert-beer sangat baik untuk larutan encer . Pada percobaan yang telah
dilakukan kemungkinan penyimpangan terjadi karena syarat larutan encer tersebut
tidak tercapai. Sehingga jarak rata-rata
diantara zat-zat pengabsobsi menjadi kecil sehingga masing-masing zat
mempengaruhi distribusi muatan tetangganya. Interaksi tersebut akan mengubah
kemampuan untuk mengabsorbsi cahaya pada panjang gelombang yang telah
ditentukan.
Kemungkinan
kedua dari penyimpangan dalam hal syarat konsentrasi adalah mengenai
konsentrasi zat pengabsorbsi yang rendah namun konsentrasi zat non-pengabsorbsi
yang tinggi, terutama elektrolit. Interaksi elektrostatis ion-ion yang
berdekatan dengan zat pengabsorbsi akan mempengaruhi harga molar absortivitas.
2.
Penyimpangan dalam hal
syarat kimia
Zat
pengabsorbsi harus dalam keadaan tidak
terdisosiasi, berasosiasi, atau breaksi dengan pelarut menghasilkan
suatu produk pengabsorbsi spektrum yang berbeda dari zat yang dianalisis.
Sedangkan
pada percobaan yang dilakukan dengan menggunakan spektrometri serapan atom
dalam pengerjaanya dapat terjadi beberapa gangguan diantaranya :
·
Pengendapan Unsur yang
akan dianalisa yang disebabkan oleh hidrolisis ion-ion logam dalam air dan
bereaksi dengan anion lain
·
Jumlah cuplikan dan
standar yang mencapai nyala tidak sama yang disebabkan adanya perbedaan
sifat-sifat fisik larutan cuplikan dan larutan standar. Jika larutan cuplikan
mempunyai viskositas atau tegangan permukaan yang berbeda nyata dengan
standard, maka jumlah larutan yang teraspirasi kedalam ruang pencampur akan
berbeda.
·
Dengan demikian jumlah
yang sampai ke dalam nyala berbeda, sehingga jumlah atom yang terbentukpun akan
berbeda, akibatnya absorbansi yang terukur tidak akan menunjukkan korelasi
antara standar dan cuplikan.
·
Terjadinya ionisasi
atom-atom didalam nyala yang akan mengurangi intensitas pancaran garis spektrum
atom di dalam spektroskopi serapan.
Kesimpulan
Berdasarkan
pada percobaan yang telah dilakukan maka
dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.
Konsentrasi
tembaga (II) pada sampel 1 = 18,3 ppm
dan pada sampel 2 = 18,1 ppm
2.
Terdapat
dua penyimpangan pada pengujian yang dilakukan yaitu penyimpangan dalam hal
syarat konsentrasi dan penyimpangan dalam hal syarat kimia.
BIBLIOGRAFI
A.L.Underwood and R.A. Day.2002. Analisis Kimia Kuantitatif.
Diterjemahkan oleh: Hilarius Wibi H dan Lemeda Simarmata. Jakarta :
Erlangga
Hendayana,Sumar.1994. Kimia
Analtik Instrumen. Semarang : IKIP Semarang Press.
Tim Kimia Analitik Instrumen.2009. Penuntun Praktikum Kimia Analitik Instrumen. Bandung : FPMIPA UPI.