Evaluasi Kebijakan Sistem Zonasi Dalam Penerimaan Peserta Didik Baru Tingkat Smp
|
Jurnal Syntax Transformation |
Vol. 1 No. 6, Agustus 2020 |
|
p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial Sains |
EPISTEMOLOGI TAFSIR AL-AMTHAL FITAFSIR KITAB ALLAH AL-MUNZAL KARYA NASIR MAKARIM AL-SHIRAZI
Abdul Khamid
Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Indonesia
Email: abdulhamid.hasyim@gmail.com
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRAK |
|
Diterima 2 Agustus 2020 Diterima dalam bentuk revisi 15 Agustus 2020 Diterima dalam bentuk revisi 20 Agustus 2020 |
Tinjauan terhadap epistemologi Tafsir al-Amthal sangat penting dilakukan. Hal ini untuk mengetahui bagaimana hakikat tafsir (karakteristik dan tujuan penafsiran), sumber tafsir, serta bagaimana metode dan validitas penafsiran. Sebagai tafsir komprehensif yang berpendekatan sosiologis, karya ini termasuk berkarakteristik non-ideologis yaitu tidak menampilkan perbedaan pendapat antar beberapa madzhab fiqih. Tafsir al-Amthal ini juga merupakan kitab tafsir Shi’ah Ima>miyyah Ithna ‘Ashariyyah. Dengan telaah deskriptif -analitis, tulisan ini menemukan bahwa basis epistemologi Tafsir al-Amthal adalah bersumber pada Alquran dan akal (ijtihad) dan akal ini lebih dominan daripada Alquran dan al-h}adi>th. Berdasar telaah terhadap riwayat hidupnya, tulisan ini membuktikan bahwa Tafsir al-Amthal merupakan representasi zamannya di mana pengarang berguru, bergaul dan merespon problem yang muncul pada zamannya dan menjawab sesuai dengan semangat zamannya pula. |
|
Kata kunci: Sumber; Tafsir dan al-Amthal. |
Pendahuluan
Tafsir secara etimologi penjelasannya sebagai berikut: Asal kata Tafsir dapat dikembalikan kepada dua akar kata: Pertama, fa-sa-ra (dengan huruf pertama fa’). Kedua, sa-fa-ra (dengan huruf pertama sin). Dari akar yang pertama, selain kata Tafsir juga ada kata Tafsirah, sepercik air kencing yang diambil dokter untuk diamati, dengan mengamati air tersebut dokter dapat menyingkap atau mengetahui penyakit pasien. Ringkasnya, kata Tafsir yang berakar pada kata fa-sa-ra menunjukkan arti menyingkap atau mengungkap (Nur Faizin, 2011).
Sedangkan bila kata Tafsir diambil dari akar kata sa-fa-ra (dengan huruf pertama sin), maka ia juga berarti penyingkapan: Safarat al-ma’atu sufu>ran, jika wanita menyingkap kerudung dari wajahnya. Dalam ilmu Sarf, shighah (bentuk) kata Tafsir adalah bentuk masdar dari fi’il madli (kata kerja bentuk lampau) fas-sa-ra (dobel sin) yakni penjelasan dan penyingkapan tentang sesuatu yang tertutup. Dan tafsir secara terminologi penjelasannya sebagai berikut: Redaksi para Mufassir tidak sepakat dalam mendefinisikan Tafsir. Dari banyaknya definisi yang mereka kemukakan adalah: Pertama, penjelasan suatu lafaz yang hanya mengandung atau memiliki satu penafsiran. Kedua, Tafsir hanya terbatas pada al-ittiba’ dan al-sima’ (yang dinukil) sedangkan Ta’wil tidak (lebih bebas). Ketiga, Tafsir adalah ilmu tentang turunnya ayat, surat, kisah-kisah, dan isyarat-isyarat di dalamnya, urutan makkiyah dan madaniyah, muhkam dan mutasyabih, nasikh masukh, khas dan ‘amm, mutlaq dan muqayyad serta mujmal dan mufassal. Dan definisi yang lain.
Dari definisi-definisi di atas kita dapat menarik benang merah bahwa tafsir digunakan pada sebuah teks yang jelas, baik dengan perangkat riwayat atau tinjauan bahasa atau dengan menggunakan keduanya. Jadi Tafsir memerlukan pereangkat-perangkat ilmu sebagai syarat.
Lebih lanjut tulisan ini fokus membahas epistemologi Tafsir al-Amthal. Kitab tafsir ini sangat populer di kalangan Shi’ah tetapi tidak populer di kalangan umat Islam pada umumnya. Dengan metode deskriptif-analitis, tulisan ini akan memetakan basis epistemologis Tafsir al-Amthal. Uraiannya mencakup tentang hakikat tafsir (karakteristik dan tujuan penafsiran), sumber tafsir, serta bagaimana metode, validitas penafsiran dan bukti-bukti dalam tafsirnya.
Penelitian ini urgen dilakukan mengingat Tafsir al-Amthal merupakan karya terbesar tafsir yang menggunakan pendekatan sosiologis yang keseluruhannya berjumlah 15 jilid yang mana menafsirkan semua ayat dalam Alquran.
Metode Penelitian
Metode penafsiran yang dipakai oleh Nasir Makarim al-Shirazi ialah metode bi al-Ra’y, Tah}lili, dengan pendekatan sosiogis. Pertama, metode bi al-Ra’y, yaitu cara menafsirkan ayat-ayat Alquran yang didasarkan atas sumber ijtihad dan pemikiran mufassir terhadap tuntutan kaidah bahasa Arab dan kesusasteraannya, teori ilmu setelah dia menguasai sumber-sumber tadi. (Muhammad Ridlwan Nasir, 2011)
Kedua, metode Tahlili, yakni metode menafsirkan Alquran yang berusaha menjelaskan Alquran dengan menguraikan berbagai seginya dan menjelaskan apa yang dimaksudkan oleh Alquran. Tafsir ini dilakukan secara berurutan ayat demi ayat kemudian surat demi surat dari awal hingga akhir sesuai dengan susunan mushaf Alquran, menjelaskan kosa kata, konotasi kalimatnya, latar belakang turunnya ayat, kaitannya dengan ayat lain, baik sebelum maupun sesudahnya (munasabah), dan tidak ketinggalan pendapat-pendapat yang telah diberikan berkenaan dengan tafsiran ayat-ayat tersebut, baik yang disampaikan oleh Nabi Saw., sahabat, para tabi’in, maupun ahli tafsir lainnya, dan menjelaskan arti yang dikehendaki, sasaran yang dituju dan kandungan ayat, yaitu unsur-unsur I’jaz, balaghah, dan keindahan susunan kalimat, menjelaskan apa yang dapat diambil dari ayat yaitu hukum fiqih, dalil syar’i, arti secara bahasa, norma-norma akhlak dan lain sebagainya (La Ode Ismail Ahmad, 2016). Ketiga, pendekatan sosiologis, yakni dihubungkan dengan sosial kemasyarakatan.
Hasil dan Pembahasan
Berikut ini adalah contoh penafsiran dari tafsir al-Amthal: terdapat pada surat al-baqarah ayat 26 yang Artinya: Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhan. Tetapi mereka yang kafir berkata, “Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini? Dengan (perumpamaan) itu banyak orang yang dibiarkan-Nya sesat, dan dengan itu banyak (pula) orang yang diberi-Nya petunjuk. Tetapi tidak ada yang Dia sesatkan dengan perumpamaan itu selain orang-orang fasik (Syaamil Quran Hijaz Terjemah dan Usul Fiqih, 2011).
Pertama, fawqaha adalah yang lebih rendah, karena tema pembahasan di sini adalah meremehkan sesuatu dengan perumpamaan. Arti ini biasa dipakai dalam percakapan sehari-hari, misalnya kita mendengar seseorang berkata kepada orang lain, “Tidakkah kamu malu mencurahkan segala usahamu demi mendapatkan satu dinar saja?” Orang itu menjawab, “Tidak, Malah lebih dari itu, aku siap mencurahkan segala usahaku demi mendapatkan setengah dinar.” Kata “lebih dari itu” artinya lebih kecil atau lebih rendah. Kedua, fawqaha berarti lebih besar. Pendapat pertama lebih tepat dan sesuai. Kemudian ayat di atas melanjutkan, Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka. Dengan keimanan dan ketaqwaan, mereka jauh dari penolakan, kebencian dan kemungkiran terhadap kebenaran, dan mereka dapat melihat kebenaran secara jelas serta memahami perumpamaan-perumpamaan dengan baik.
Tetapi orang-orang kafir, maka mereka berkata, “Apa yang Allah inginkan dengan perumpamaan ini?” Dengannya, Allah menyesatkan banyak orang dan dengannya pula Allah memberi petunjuk banyak orang. Mereka memprotes perumpamaan itu karena tidak memberikan petunjuk kepada semua orang. Mereka beranggapan bahwa jika perumpamaan itu datang dari Allah, maka semua manusia akan mendapatkan petunjuk dan tidak akan menyesatkan seorang pun. Lalu Allah menjawab mereka dengan jawaban yang ringkas dan tegas, Dan tidaklah ada yang disesatkan oleh Allah dengan perumpamaan itu kecuali orang-orang yang fasik.
Semua perumpamaan itu dari Allah dan semuanya adalah cahaya dan petunjuk, tetapi semua itu membutuhkan mata yang melihat agar dapat mengambil manfaat darinya. Penolakan mereka adalah karena kekurangan yang ada pada mereka, bukan pada ayat-ayat Allah Swt. Orang-orang yang menolak Alquran membuat perumpamaan dengan seekor nyamuk yang kecil ini sebagai alat untuk menghina Alquran. Tetapi, kalau mereka objektif dan memperhatikan dengan seksama akan binatang yang kecil itu, maka mereka akan mendapatkan padanya keajaiban-keajaiban penciptaan yang teliti dan luar biasa yang mengagumkan akal.
Melalui perumpamaan ini, Allah ingin menjelaskan kepada kaum Muslimin kecermatan karya-Nya di alam ini agar mereka merenungkan makhluk yang tampak lemah, padahal serupa dengan gajah yang besar. Ini semua menandakan kebesaran Sang Pencipta. Belalai nyamuk serupa dengan belalai gajah; kosong dan mempunyai lubang yang sangat kecil dan mampu menyedot darah. Allah telah memberinya daya cerna, daya penghancur dan daya tolak, juga memberinya organ-organ tubuh lahir; telinga dan sayap yang sesuai dengan kondisi kehidupannya. Sehingga ia mempunyai sensitivitas yang dengannya ia dapat merasakan dengan cepat bahaya yang mengancamnya. Ia akan segera terbang dengan tangkas di saat musuh siap menyerangnya. Meski ia kecil dan lemah, binatang-binatang besar tidak mampu menundukkannya.
Berkenaan dengan ini, Ami>r a-Mu’mini>n ‘Ali bin Abi T{a>lib berkata, “Sekiranya semua hewan dunia; burung dan unggas, binatang yang dalam kandang dan binatang yang diternak di luar, binatang-binatang yang serumpun dan dari berbagai jenis, dan hewan yang bodoh dan hewan yang cerdik, sekiranya mereka semua bergabung untuk menciptakan seekor nyamuk, niscaya mereka tidak akan mampu menciptakannya dan mereka tidak akan mengetahui bagaimana cara menciptakannya. Akal mereka akan kebingungan dan terkagu-kagum dengan pengetahuan akan hal itu. Segala kemampuan mereka tidak berdaya dan habis. Mereka akan kembali dengan kecewa dan gagal serta menyadari bahwa diri mereka kalah, mengakui kelemahan mereka untuk menciptakannya.
Jadi, dalam penafsiran tafsir al-Amthal ini terdapat latar belakang turunnya ayat, penafsiran Alquran dengan Alquran, konotasi kalimat yakni ketika menjelasakan makna fawqaha>, dan pendapat yang disampaikan oleh sahabat yakni ‘Ali bin Abi T{a>lib. Telah ada sebagian dari segala aspek yang terkandung di dalam ayat yang ditafsirkan, beberapa aspek saja yang ada maka sudah disebut mengunakan metode Tahlili. Larva Aedes aegypti dapat ditemukan pada genangan-genangan air bersih dan tidak mengalir, terbuka serta terlindung dari cahaya matahari (Fitri Nadifah dkk, 2016). Infusa kulit buah jeruk nipis (Citrus aurantifolia) memiliki potensi sebagai anti nyamuk Aedes aegypti karena adanya kematian nyamuk Aedes aegypti setelah 60 menit pededahan. Selain itu, bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak, semakin tinggi pula jumlah nyamuk Aedes aegypti yang mati(Berliana Naomi Rumondang Sari Aritonang dkk, 2017).
Jika kulit jeruk nipis dapat membunuh nyamuk Aedes aegypti maka Mangrove Sonneratia alba dapat membunuh larva nyamuk Aedes aegypti. Mangrove Sonneratia alba adalah salah satu jenis mangrove yang dapat ditemukan di pesisir pantai Kalimantan Timur (Usman dkk, 2019)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa metabolit sekunder yang mempunyai peran dominan mematikan larva nyamuk Aedes aegypti adalah fenolik. Adanya senyawa fenol yang terkandung dapat menyebabkan terjadinya kematian pada larva karena dapat meracuni dalam sel dan menyebabkan presipitasi serta denaturasi protein. Senyawa metabolit sekunder lain yang juga berperan mematikan larva nyamuk Aedes aegypti adalah flavanoid. Flavanoid yang masuk ke dalam tubuh serangga dapat melumpuhkan saraf pernafasan serangga sehingga mengakibatkan kematian. Pada ekstrak etanol buah dan daun mangrove Sonneratia alba mempunyai nilai LC50 yang besar sehingga mempunyai potensi mematikan larva nyamuk Aedes aegypti rendah jika dibandingkan dengan ekstrak etanol kulit batang dan akar mangrove Sonneratia alba. Hal ini dapat dikarenakan kandungan fenolik dan flavanoid lebih banyak pada ekstrak etanol akar dan kulit batang mangrove Sonneratia alba sehingga lebih bersifat toksik. Senyawa bioaktif yang terkandung dalam ekstrak daun mangkokan merupakan penyebab kematian larva nyamuk karena senyawa bioaktif tersebut dapat berperan sebagai toksikan(Ifa Ahdiyah dkk, 2015). Kalau ekstrak etanol mangrove Sonneratia alba dapat membunuh larva nyamuk Aedes aegypti maka ekstrak daun mangkokan dapat membunuh larva nyamuk Culex. Nyamuk yang termasuk dalam genus Culex dikenal sebagai vektor penular arbovirus dan demam kaki gajah. Pemberantasan nyamuk Aedes aegypti sangat penting dalam rangka pencegahan terjadinya wabah penyakit demam berdarah, karena tanpa perantaraan nyamuk ini, virus dengue penyebab demam berdarah tidak akan dapat menginfeksi tubuh manusia. Hasil penelitian bahwa bakteri kitinolitik dapat menyebabkan kematian larva nyamuk Aedes aegypti sebesar 97% dalam waktu 108 jam.(Sri Pujiyanto dkk, 2011).
Kesimpulan
Dalam menafsirkan Alquran, Nasir Makarim al-Shirazi menggunakan metode bi al-Ra’y dan metodeTahlili. Adapun pendekatan yang digunakan untuk menafsirkan ayat-ayat Alquran menggunakan pendekatan sosiologis. Sedangkan sumber penafsiran yang digunakan yakni Alquran dan akal (ijtihad) dan akal ini lebih dominan daripada Alquran dan al-hadith.
Epistemologi Tafsir al-Amthal ini diharapkan dapat membantu bagaimana cara menelusuri secara mendasar setiap karya tafsir dengan mengacu pada epistemologi dari masing-masing mufassir. Dengan demikian, setiap karya tafsir akan lebih mudah dipahami model-model penafsirannya, mengingat banyak karya-karya tafsir khususnya tafsir yang berpendekatan sosiologis yang tidak hanya didokumentasikan oleh Nasir Makarim al-Shirazi.
Bibliografi
Berliana Naomi Rumondang Sari Aritonang dkk. (2017). “Uji Efektivitas Kulit Buah Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia) Dengan Pembanding Spray Anti nyamuk Bermerk Terhadap Nyamuk Aedes Aegypti”,. Jurnal Sains Dan Teknologi Laboratorium Medik, 2(1).
Fitri Nadifah dkk. (2016). Identifikasi Larva Nyamuk Pada Tempat Penampungan Air di Padukuhan Dero Condong Catur Kabupaten Sleman. Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas, 10(2).
Ifa Ahdiyah dkk. (2015). “Pengaruh Ekstrak Daun Mangkokan (Nothophanax scutellarium) Sebagai Larvasida Nyamuk Culex sp.” Jurnal Sains Dan Seni ITS, 4(2).
La Ode Ismail Ahmad. (2016). Konsep Metode tahlili Dalam Penafsiran Alquran”, Shaut al-‘Arabiyah. 4(2).
Muhammad Ridlwan Nasir. (2011). Perpektif Baru Metode Tafsir Muqarin Dalam Memahami Alquran. Imtiyaz.
Nur Faizin. (2011). 10 Tema Kontroversial ‘Ulumul Quran. CV Azhar Risalah.
Sri Pujiyanto dkk. (2011). “Aktivitas Bakteri Kitinolitik Akuatik Isolat Lokal Terhadap Perkembangan dan Mortalitas Larva Nyamuk Aedes aegypti”,. Jurnal Sains Dan Matematika, 19(2).
Syaamil Quran Hijaz Terjemah dan Usul Fiqih. (2011). al-Baqarah [2]: 26. syamil quran.
Usman dkk. (2019). “Totalitas Ekstrak Etanol Mangrove Sonneratia alba Terhadap Larva Nyamuk Aedes aegypti.” Jurnal Sains Dan Kesehatan, 2(3).